dik TriE : Brings You Freedom: Pembinaan Pelajar Pecinta Alam Indonesia
Pembinaan Pelajar Pecinta Alam Indonesia
A. LATAR BELAKANG
Dalam rangka peningkatan keterampilan kegiatan Alam Bebas, maka UPL MPA UNSOED bermaksud mengadakan kegiatan pembinaan pelajar pecinta alam (tingkat SMA/sederajat se Jabar, Jateng dan DIY yang akan dilaksanakan pada tanggal 15 - 18 juli 2010 bertempat di Universitas Jendral Soedirman dan praktek lapangan di Lereng Selatan Gunung Slamet Jawa Tengah.
B. TUJUAN
Acara, yang mengusung tema “ Mempelajari dan Memahami Alam Untuk Tetap Bisa Menjaga Kelestarian Lingkungan Hidup” diharapkan akan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kalangan pelajar pecinta alam dalam manajemen kegiatan, navigasi darat, ilmu survival dan jurnalistik kegiatan di alam bebas.
C. BENTUK KEGIATAN
Kegiatan ini berbentuk penyampaian materi, diskusi, dan aplikasi materi.
D. WAKTU DAN TEMPAT
1. Materi
Kamis - Jumat, 15-16 Juli 2010, di kampus Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
2. Praktek
Sabtu - Minggu, 17-18 Juli 22010, di Lereng Selatan Gn. Slamet, Jawa Tengah.
E. PESERTA
Peserta PPPAI ini adalah Siswa SMA/Sederajat, Siswa Pecinta Alam dan Pramuka Se- Jabar, Jateng & DIY.
Jumlah peserta dari tiap sekolah maksimal 3 orang, dan jumlah peserta dari kegiatan ini dibatasi 60 orang.
F. FASILITAS
Diktat Materi, Konsumsi 4x makan (materi ruang), Akomodasi, Kaos kegiatan, Sertifikat + Idcard, Transportasi : Dari tempat materi ruang (Universitas Jenderal Soedirman) menuju tempat praktek (Lereng Selatan Gn. Slamet) PP, Stiker.
G. MATERI DAN PEMATERI/INSTRUKTUR
MATERI :
Survival, Navigasi Darat, Jurnalistik Kegiatan & Manajemen Perjalanan mountainneering
PEMATERI/INSTRUKTUR :
1. Budi ”Buna” Mulyana
(Anggota Luar Biasa UPL MPA UNSOED,
KAPINIS Indonesia)
2. Roni Rochmat Hidayat
(Anggota Luar Biasa UPL MPA UNSOED, Ekspedisi BENGAWAN SOLO KOMPAS 2007)
3. Teo Tri Prasetyana
(Anggota kehormatan WANADRI, Pengurus FMI, Sekjen AFI)
4. Agus Ariyanto (UPL MPA UNSOED, Ekspedisi Soedirman IV Kilimanjaro Afrika)
H. PERLENGKAPAN
Perlengkapan yang harus dibawa peserta antara lain :
Ransel Carier, matras, lilin 1 pack, korek api, rain coat / ponco, bahan makanan 5x makan, kompas bidik, protaktor, pakaian lapangan 1 stel, pakaian ganti 2 stel, pakaian hangat, topi, alat masak+bahan bakar, alat makan (piring,sendok,gelas), alat mandi, obat pribadi, golok, webbing, tali rafia, peluit, sepatu lapangan, kaos kaki 2 stel, sandal, tenda/flysheet (disarankan tenda dome), senter/headlamp, alat tulis (buku catatan, pensil, kertas kalkir 1 lembar,ballpoint 3 warna,busur,penggaris).
I. PERSYARATAN PERSERTA
1. Pelajar Sekolah Menengah Atas/Sederajat
2. Mengisi formulir pendaftaran
3. Mengembalikan formulir yang telah diisi dengan melampirkan :
- Pas photo ukuran 3 x 4 (2 lembar)
- Fotocopy kartu tanda pengenal
4. Membayar biaya pelatihan Rp 60.000,00/org (Enam Puluh Ribu Rupiah)
5. Membawa surat tugas bagi yang berasal dari organisasi
6. Menyetujui dan menadatangani surat pernyataan (disediakan panitia)
J. TEKNIS PENDAFTARAN
1. Pendaftaran dibuka mulai brosure ini disebar sampai dengan 13 Juli 2010
2. Pembayaran dapat dilakukan melalui transfer :
Bank BNI no. rek 0183580332 a.n. Noor Annisa
Bank Mandiri 1340005131981 a.n. Iip Anipah
bukti setoran dibawa pada saat daftar ulang
3. Daftar ulang tanggal 15 Juli 2010 di Gedung Asrama UNSOED (komplek GOR Soesilo Soedarman, Karangwangkal)
4. Technical Meeting tanggal 15 Juli 2010 Pukul 15.00 WIB – Selesai, di Gedung Asrama UNSOED (komplek GOR Soesilo Soedarman, Karangwangkal)
5. Contak Person : Aan Anggraeni (08562617664), Ipmawan (085227578882)
K. CARA PENCAPAIAN LOKASI
1. Terminal Purwokerto : Naik angkot “O2” Turun di depan GOR “Soesilo Soedarman” UNSOED.
2. Stasiun Purwokerto: Naik angkot “G1” turun di sekretariat UPL MPA Unsoed (Depan FISIP).
3. Stasiun Kroya : Naik bis menuju terminal Purwokerto, dari terminal purwokerto naik angkot O2 Turun di depan GOR “Soesilo Soedarman” UNSOED.

http://uplmpa.jimdo.com/
Gempa Biak - Sumber Energi Berada di Sesar
Pulau Biak dan Pulau Yapen di pesisir utara leher kepala burung Papua kerap diguncang gempa. Gempa itu bersumber di Sesar Yapen yang melintas di antara dua pulau itu. Sesar itu membentang dari Manokwari hingga ke Jayapura di ujung timur pesisir utara Pulau Cenderawasih itu.
Pusat Gempa Nasional (PGN) di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Rabu (16/6), melaporkan pada pukul 10.16 WIB terjadi gempa tektonik berskala 7,1 skala Richter. Data seismograf yang dihimpun di PGN menunjukkan, sumber gempa berada pada jarak 123 kilometer tenggara Biak pada kedalaman 10 kilometer—tergolong gempa dangkal.
Gempa ini dirasakan di Biak dan Serui, ibu kota Yapen dengan intensitas tergolong kuat, 5–6 MMI (Modified Mercalli Intensity). Adapun di Manokwari dan Nabire di ”leher burung” Papua, intensitasnya 4–5 MMI. Intensitas ini mengukur dampak gempa, bukan energi yang dilepaskan.
Gempa utama itu, menurut Kepala Subbidang Informasi Dini Gempa Bumi BMKG Rahmat Triyono, didahului dengan gempa 6,2 SR, 10 menit sebelumnya.
Menurut Rahmat, bila dilihat dari skala kegempaan dan kedalaman sumbernya, gempa Biak berpotensi menimbulkan tsunami, tetapi BMKG tidak melihat kejadian gelombang pasang itu. ”Karena mekanisme pergerakan sesar itu mendatar sehingga tidak menimbulkan lonjakan kolom air berupa gelombang pasang yang menjalar,” ujarnya.
Menurut pakar tsunami Parluhutan Manurung dari Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, tsunami terjadi akibat gerakan cepat naik-turun permukaan laut yang merambat di sekitar perairan. Hal ini timbul akibat perpindahan massa air yang mengisi retakan yang terjadi pada permukaan dasar laut saat gempa terjadi.
Sesar Yapen, lanjut Rahmat, merupakan percabangan dari Sesar Sorong—membentang dari Manokwari, melintas di Maluku Utara hingga ke ujung timur Sulawesi Tengah.
Sesar Yapen menerus sampai Jayapura di timur, sedangkan cabang sesar Sorong lainnya yang disebut Sesar Ransiki terus ke arah tenggara hingga ke Nabire.
Selain sesar-sesar besar ini, kata Rahmat, banyak sesar mikro lain yang aktivitasnya dipengaruhi interaksi yang rumit tiga lempeng dunia, yaitu Eurasia, Indoaustralia, dan Pasifik.
Dari tiga lempeng tersebut, kawasan sekitar Sesar Yapen lebih banyak dipengaruhi subduksi Lempeng Samudra Pasifik yang bergerak lebih aktif, mendesak ke arah selatan.
Segmen zona subduksi di utara Papua itu disebut Subduksi Irian. Segmen ini berada di perairan utara Pulau Biak. Aktivitas penunjaman tersebut menimbulkan gempa diikuti tsunami, di kepulauan dan pesisir di utara Papua.
Data sejarah
Sejarah kegempaan di kawasan itu menunjukkan tingkat kegempaan berskala lebih tinggi dari 6 SR hampir setiap tahun terjadi.
Kejadian gempa besar di Biak-Yapen paling awal tercatat 26 Mei 1914. Ketika itu terjadi tsunami hingga ke Pulau Yapen dan dilaporkan menewaskan sejumlah orang di pulau itu.
Selain itu, BMKG juga mencatat sejak 12 September 1979 gempa berskala 6,3 SR ke atas hingga kini telah 11 kali terjadi di kawasan segitiga Biak-Yapen- Nabire. Guncangan itu bersumber di zona subduksi dan sesar.
Selama kurun waktu itu, aktivitas tektonik terbesar, yaitu berskala 8,1 SR pada 17 Februari 1996. Ketika itu tsunami yang timbul akibat gempa yang berepisentrum di Subduksi Irian itu menyapu Biak dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Akibat gempa dan tsunami itu, 108 orang tewas dan 58 hilang. Gempa juga menyebabkan 5.000 rumah rusak dan roboh.
Setelah itu, Biak dilanda dua tsunami lagi, tetapi bukan tergolong yang merusak—akibat gempa 10 Oktober 2002 yang berkekuatan 7,6 SR dan gempa yang berpusat di pesisir utara Manokwari, 3 Januari 2009.
Akibat gempa yang bersumber di segmen subduksi Irian itu, Manokwari juga diterjang tsunami setinggi 78 cm sedangkan Biak 38 cm dan Jayapura sekitar 20 cm.
Beberapa waktu lalu, Parluhutan Manurung yang juga Kepala Bidang Medan Gaya Berat dan Pasang Surut Bakosurtanal menjelaskan, Manokwari diguncang dua kali gempa dengan sumber berbeda yang berselang waktu sekitar tiga jam.
Pusat gempa pertama yang berkekuatan 7,9 SR berjarak sekitar 140 km dari Manokwari. Adapun gempa 7,6 SR jaraknya 77 km. Gelombang tsunami pertama tiba di Manokwari setelah 17 menit dengan kecepatan rata-rata sekitar 500 km/jam.
Meski tidak menelan korban jiwa, gempa Manokwari yang terjadi pada dini hari 4 Januari 2009 itu menimbulkan gelombang tsunami seperti terekam di stasiun pengamatan pasang surut yang dipasang di tiga pelabuhan, yaitu Manokwari, Biak, dan Jayapura.
Ketiga stasiun saat ini masih belum dilengkapi dengan sistem komunikasi data real time. Stasiun Manokwari dan Jayapura meski sensornya sudah digital, tetapi sistem komunikasi datanya masih belum bisa dibuat real time karena menggunakan komunikasi data GSM.
Stasiun Biak masih menggunakan analog grafis sehingga data terkirim oleh operator lokal di stasiun Biak ini melalui faksimile sehari sesudah terjadi gempa.
Dilihat dari kejadian gempa besar atau 7 SR ke atas, Rahmat mencatat sejak tahun 2005, peningkatan yang signifikan terjadi pada 2009. Pada 2005, tercatat 4 kali gempa besar, sedangkan tahun lalu terjadi sebanyak dua kali lipatnya.
Dari delapan kali kejadian gempa besar tahun lalu, lima di antaranya terjadi di kawasan timur Indonesia. Sampai Rabu (16/6) ini, telah terjadi 5 gempa besar di sana. Selain Biak, juga terekam kejadian gempa di Labuha Maluku pada 14 Maret lalu yang berkekuatan 7,0 SR.
Meskipun begitu, data tersebut tidak dapat dijadikan dasar kesimpulan telah terjadi peningkatan kegempaan di Indonesia. Kurun waktu penelitiannya masih relatif singkat.
Sumber: Kompas (17/06)



